Kepiting bakau (Scylla serrata) adalah salah satu komoditas seafood paling berharga dari Indonesia. Dikenal di pasar Internasional sebagai 'mud crab', 'mangrove crab', atau 'green mud crab', kepiting ini hidup dan berkembang biak di ekosistem mangrove pesisir pantai Indonesia yang tersebar luas dari pesisir Kalimantan Timur, Sulawesi, Papua Barat, Maluku, hingga pesisir Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara.
Populasi kepiting bakau Indonesia didukung oleh luasnya ekosistem mangrove nusantara yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Ekosistem ini bukan hanya habitat kepiting bakau, tetapi juga berfungsi sebagai nursery ground bagi ratusan spesies ikan dan invertebrata laut lainnya.
Kepiting bakau memiliki kombinasi unik dari karakteristik yang membuatnya sangat berharga dagingnya tebal dan padat, rasanya manis alami dengan sedikit rasa laut yang khas, kandungan protein sangat tinggi (sekitar 20-22 gram per 100 gram daging), kaya mineral penting (zinc, selenium, tembaga, fosfor), dan kaya akan omega-3. Kombinasi inilah yang menjadikan kepiting bakau sebagai seafood premium yang sangat diminati oleh konsumen di seluruh dunia.
Harga per kilogram untuk kepiting bakau ukuran premium (lebih dari 500 gram per ekor) di pasar lokal Indonesia berkisar antara 150.000 hingga 350.000 rupiah per kilogram tergantung musim, dan harga ekspor bisa jauh lebih tinggi terutama untuk pasar Cina dan Singapura yang membayar premium untuk kepiting hidup berkualitas tinggi.
Sistem Grading Kepiting Bakau
Industri kepiting bakau menggunakan sistem grading berdasarkan bobot dan kondisi fisik seperti :
Super/Premium Grade Bobot lebih dari 500 gram per ekor, kedua capit lengkap dan tidak cacat, gerakan aktif dan agresif. Ini adalah grade tertinggi yang ditujukan untuk ekspor live crab dan restoran premium.
Grade A Bobot 300-500 gram per ekor, kondisi prima dengan minimal cacat fisik. Untuk ekspor dan restoran seafood menengah-atas.
Grade B Bobot 150-300 gram per ekor. Lebih sering digunakan untuk industri pengolahan, katering, dan pasar tradisional.
Soka (Soft Shell Crab) Kepiting yang sedang dalam fase pergantian cangkang (moulting). Seluruh tubuh termasuk cangkangnya bisa dimakan. Nilai jualnya bisa 3-7 kali lipat kepiting biasa dalam ukuran yang sama.
China adalah pembeli terbesar kepiting bakau hidup dari Indonesia secara volume dan nilai. Singapura dan Hong Kong adalah pasar ultra premium yang membayar harga tertinggi per kilogram karena permintaan konsumen kelas atas yang sangat tinggi. Pasar Timur Tengah dan Amerika Utara lebih banyak mengimpor kepiting bakau dalam format beku (cooked frozen clusters, cooked frozen whole, atau live-cooked portions).
Kepiting bakau hidup diekspor via udara dalam kondisi diikat tangannya (untuk mencegah saling melukai) dan dikemas dalam kotak styrofoam berventilasi yang diisi media lembab. Survival rate pengiriman bergantung pada kecepatan proses packing, kualitas media kemasan, dan durasi penerbangan. Operator berpengalaman dengan fasilitas yang tepat mampu mempertahankan survival rate lebih dari 90% untuk penerbangan berdurasi 6-10 jam.
💡 | Prime Seafood Indonesia menyediakan kepiting bakau hidup dan beku dalam berbagai grading, siap ekspor ke Berbagai Negara seperti China, Singapura, dan pasar Timur Tengah dengan dokumentasi lengkap dan survival rate tinggi berkat sistem packing berteknologi tinggi. |
#jasminesamudranusantara #primeseafoodindonesia #freshandseafood #seafood #seafoodindonesia #indonesiaseafood
©jasminesamudranusantara
Penulis Artikel : Ari Davino - Jakarta Selatan 7 Mei 2026
Hubungi Kami www.primeseafoodindonesia.id | WhatsApp : +62- 813 -1847 - 091 | info@primeseafoodindonesia.id Linkedin : Jasmine Samudra Nusantara | Instagram : Jasmine Samudra Nusantara |
PT Jasmine Samudra Nusantara
Delivering world-class, sustainably sourced live and frozen seafood to global markets with uncompromising quality.